Wisata Yang Belum Terekspos Secara Luas di Sekotong Lombok Barat

0

LOMBOK BARAT, braind.id – Sekdes Desa Sekotong Tengah M Rasid, yang juga pemuda setempat, melihat potensi wisata yang belum terekspos secara luas, diwilayah Sekotong Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

M. Rasid menjelaskan secara lengkap hingga mengajak para pemuda setempat memperkenalkan lokasi tersebut. Ia mempelajari viralnya Buwun Mas Hill yang berhasil menyedot ribuan pengunjung,

Saat ini, pemuda di Dusun Telaga Lebur Desa Sekotong Tengah berinsiatif memperkenalkan lokasi wisata waterfall.

Lokasi wisata yang terletak di Dusun Loang Baloq ini tak hanya menyajikan air terjun, ada pemandangan alam dan goa yang menjadi daya pikat tersendiri, yang terpadu dengan wisata budaya dan religi daerah setempat.

Tempat yang dinamai Batu Gajah, terlihat bentuk bebatuan yang ada di tempat ini menyerupai kepala gajah. Tatanan bebatuan mirip seperti kepala, belalai dan badan gajah.

Spot diperkenalkan setelah mengetahui para santri yang mondok di Ponpes Darul Quran WalHadist di dusun setempat kerap kali belajar di loksi tersebut.

Mereka belajar menghapal Al-quran ditempat ini karena suasananya yang sunyi dan begitu tenang. Menurut sesepuh setempat, tempat ini konon sebagai lokasi pemujaan penganut watu telu.

Di lokasi ini ada pedewak atau tempat pemandian, “Konon tempat ini dipakai penganut watu telu, tempat  ini untuk ritual,” kata Rasid.

Sampai saat ini sebagian warga setempat masih memakainya untuk bersemedi. Watterfal ini memiliki tiga tingkatan, dimana tiap tingkatan ada kolam.

Yang menjadi daya tarik, ada goa di bagian atas air terjun berjarak sekitar belasan meter. Goa yang ada memiliki beberapa ruang berada dalam satu kawasan dengan ukuran luas bervariasi.

Untuk memasuki goa dimulai dari goa penembekk (pintu masuk ke goa selanjutnya), lalu ada Goa kedua yang dinamai gua lorong, karena terdapat terowongan sepanjang 5 meter. Di lorong ini hanya bisa masuk sebanyak 2 orang saja.

Tiba di goa ketiga barulah goa keempat dan kelima. Sesampai di goa paling atas maka terdapat pemandangan alam serta terlihat hamparan laut lembar.

Selain punya potensi wisata air terjun dan goa, di dusun setempat juga konon ada peninggalan watu telu berupa kitab Al-quran tulis tangan, tongkat dan khutbah.  Berbagai perangkat ini dipakai oleh orang tua zaman Watu Telu untuk ritual upacara.

“konsep pengembangan kawasan ini kedepan memadukan antara wisata alam dengan budaya, adat dan religi. Artinya pemandangan alam dipadukan dengan budaya, adat watu telu, serta peninggalannya,” kata Rashid.

“para pemuda setempat mulai menata lokasi tersebut secara swadaya. Diakui akses jalan begitu penting karena jalur sepanjang 250 meter yang dilalui ke lokasi ini rusak. Namun jalur ini juga bisa menjadi alternatif trakcing bagi penghobi pendaki. Pernah ada mahasiswa UIN yang menjelajah da nada pengunjung Bali yang datang kesini sengaja karena membaca di medsos,” imbuhnya. (Hr)