Wisata Pasir Putih Manokwari Berubah Jadi Tempat Penampung Sampah

0
Sampah di Lokasi Wisata Pantai Pasir Putih, Manokwari, Papua Barat. [fg]

PAPUA BARAT, braind.id – Lokasi Pasir Putih yang sejak dahulu kala hingga saat ini menjadi tempat wisata lokal bagi separuh warga di Kabupaten Manokwari kini berubah menjadi tempat penampung sampah (TPS).

Pasalnya, setiap sampah yang dibuang dan hanyut dari segala penjuru khususnya daerah Pasar Wosi, Pasar Sanggeng, Kompleks Arkuki, Wirsi, Borobudur, Borarsi, Anggrem, dan Kwawi sebagian besar akan kandas di tempat wisata pasir putih.

Pantuan braind.id, bersemaraknya sampah pelastik tersebut di bibir pantai menyebabkan warna bibir pantai terlihat tak seperti biasanya, dimana sampah mewarnai pasir putih yang begitu berkilau saat di pandang para pengunjung maupun warga yang melintas di jalan pasir putih.

Dimana, sampah yang paling dominan terlihat di pesisir pantai pasir putih diantaranya pasltik botol mineral, kantong pelastik hitam, pakaian bekas, pempers, botol parfum, dan keleng-kaleng bekas.

Josef Tawuran, salah satu warga setempat yang sudah hidup berpuluh-puluhan tahun di sekitar lokasi wisata pasir putih dan bekerja sebagai tukan parkir maupun tukan sapu mengatakan bahwa sampah yang saat ini berhamburan di bibir pantai, kebanyakan sampah yang hanyut dari wilayah Teluk Sawaibu dan Wosi.

“Sampah ini kebanyak dari kota, karena pemerintah tidak melarang masyarakat yang di pasar-pasar, yang di pinggiran-pinggiran pantai, dan di kali-kali seperti di wosi dan teluk sawaibu untuk tidak membuang sampah ke laut. Jadi kalau mau cari parfun-parfun merek apa saja ada disini,”terang Josef kepada braind.id, Minggu (25/02/2018).

Menurutnya, apabila masyarakat membuang sampah di kali-kali dan disetiap pinggiran-pinggiran pantai tersebut, maka pada waktu hujan sampah-sampah itu akan hanyut dan terdampar di pinggiran pantai wisata pasir putih.

“Sangat banyak sampahnya. Kalau kontener muat juga mungkin tidak cukup, karena sampah yang terdampar saja sudah banyak, apalagi yang ada dalam air. Yang jelas, biota atau karang laut disini kemungkinan beberapa tahun kedepan sudah tida ada,”katanya.

Oleh sebab itu, Josef berharap kepada pemerintah daerah untuk dapat melihat persoalan sampah yang nantinya akan menghancurkan wisata pasir putih.

Disamping itu, dirinya meminta kepada pihak aparat kepolisian untuk dapat membentuk pol polisi (Pospol) untuk pengamanan di sekitar pantai wisata pasir putih.

“Biar, aktivis warga disini yang sering berjual pinang maupun jualan apa saja bisa melakukan aktivitasnya dengan merasa nyaman. Tapi juga pemerintah harus memasang lampu jalan untuk merangi jalan, karena disini tingkat kriminal juga cukup tinggi,”sebutnya.

Sementara itu, seorang pengunjung juga menyampaikan keluhan terkait restribusi di tempat wisata pasir putih. Dimana, menurutnya, pemerintah dalam hal ini instansi terkait harus mengambil langkah.

Padahal, kata dia, apabila pemerintah serius mengelola tempat wisata pasir putih tersebut dengan baik yakni mulai dari restribusi sampai dengan lain sebagainya, maka itu akan menjadi satu potensi Pendapatan Anggaran Daerah (PAD).

“Sampah juga banyak sampe. Ini pemerintah dalam hal ini instansi terkait harus ditempatkan disini atau pemrintah harus membuat satu aturan untuk pengelolaan sampah di pasir putih. Kasian, kita yang berkunjung kesini sebelum mandi-mandi, kita harus terlebih dahulu bersihkan sampah,”tandas pengunjung. [fg]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here