Vonis 4 Tahun Penjara Terhadap 2 Oknum Jaksa

0

JAKARTA, braind.id Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada Rabu, 10 Juli 2019, menjatuhkan vonis hukuman 4 tahun penjara terhadap terdakwa: CHUCK SURYOSUMPENO, S.H., MBA.

“Dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan, dan dijatuhkan denda sebesar Rp 100.000.000,- subsider 2 bulan kurungan,” diungkapkan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Dr. Mukri melalu siaran pers. Kamis (11/07)

Mukri menjelaskan, Terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 3 juncto pasal 18 UU.RI.Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,

sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU.RI.Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP;

sebelumnya terdakwa oleh JPU telah dituntut 5 thn penjara, dan denda Rp 1.000.000.000,- karena menurut JPU, perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur Tindak Pidana Korupsi sebagaimana pasal 3 juncto pasal 18 UU.RI.Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,

sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU.RI.Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP sebagaimana dalam dakwaan subsidiair.

Mukri menguraikan, Kasus yang menjerat terdakwa CHUCK SURYOSUMPENO bermula ketika terdakwa selaku Pelaksana Harian (PLH) Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat pada Februari 2010 dan Ketua Pelaksana Satuan Tugas Khusus (SATGASSUS) Penyelesaian Barang Rampasan dan Barang Sita Eksekusi pada Oktober 2010,

bersama-sama dengan Sdr. NGALIMUN, SH.MH. selaku Kepala unit Operasional SATGASSUS, Sdr. Zainal Abidin dan Sdr. Albertus Sugeng Mulyanto (dilakukan Penuntutan dalam berkas terpisah),

pada waktu yang tidak dapat diingat lagi secara pasti dari tahun 2009 sampai dengan 2014, telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yaitu Sdr. Ardi Kusuma, Sdr. Albertus Sugeng Mulyanto, dan Sdr. Zainal Abidin,

menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan dengan cara tidak melaksakanan prosedur penyelesaian barang rampasan atas asset terpidana korupsi atas nama Hendra Rahardja sebagaimana diatur dalam Keputusan Jaksa Agung RI No.KEP-X-22/C/03/2011 tentang tugas dan wewenang Satgassus penyelesaian barang rampasan dan barang sita eksekusi,

yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara sebesar Rp.32.597.000.000.- (tiga puluh dua miliar lima ratus sembilan puluh tujuh juta rupiah).

Dalam waktu yang bersamaan Pengadilan TIPIKOR pada PN.Jakarta Pusat juga menjatuhkan putusan terhadap terdakwa NGALIMUN,SH.MH. seorang Jaksa selaku Kepala Unit Operasional SATGASSUS Penyelesaian Barang Rampasan dan Barang Sita Eksekusi dalam berkas terpisah,

dengan vonis hukuman selama 4 (empat) tahun penjara dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dengan perintah tetap ditahan dan pidana denda sebesar Rp 100.000.000,- subsidiair 2 (dua) bulan kurungan,

terbukti melanggar pasal 3 juncto pasal 18 UU.RI.Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU.RI.Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Terhadap 2 putusan ini, Jaksa Penuntut Umum menyatakan pikir-pikir selama 7 (tujuh) hari  sesuai aturan hukum dan hal ini juga dilakukan oleh terdakwa : CHUCK SURYOSUMPENO, S.H.,MBA. dan terdakwa NGALIMUN, S.H.,M.H., melalui Penasehat Hukumnya juga menyatakan pikir-pikir.

“Proses hukum terhadap 2 oknum jaksa ini adalah merupakan bukti komitmen pemberantasan korupsi dari korps adhyaksa dan semangat pemberantasan tindak pidana korupsi meskipun pelakunya pejabat tinggi Kejaksaan,” jelas Mukri.

“Kami tunjukkan, bahwa Kejaksaan mampu secara professional dan obyektif dalam menangani setiap kasus yang ditangani nya,” Pungkasnya.

(edu/red)