Tahun Ini, PAD Manokwari Meningkat Rp. 60 Miliar

17

PAPUA BARAT, braind.id – Tahun ini, Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) Kabupatena Manokwari, Provinsi Papua Barat akan meningkat dibandingkan tahun 2017 lalu.

Hal ini diungkapkan, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapeda) Kabupaten Manokwari, Jhon Warijo yang ditemui wartawan, pekan lalu.

Menurutnya, PAD tersebut diperkirakan meningkatkan karena akan ada penambahan pembayaran pajak dari Investasi yang beroperasi di Manokwari yaitu Pabrik Semen.

“Target tahun ini, sekitar Rp. 60 miliar dan itu target karena pendapatan kita yang baru itu karena investasi dan investasi ini yang bisa mendatangkan PAD,”ujar Kepala Bapeda Kabupaten Manokwari, Jhon Warijo kepada braind.id, di Manokwari, Sabtu (24/03/2018).

Warijo mengemukakan bahwa, beberapa waktu lalu di kegiatan Forum OPD pihaknya telah mengusulkan atau menyarankan kepada OPD penghasil untuk menyusun program atau kegiatan yang bisa mendatangkan PAD diantarnya seperti tempat parkir.

“Nah, itu harus diatur atau dikelola secara baik dalam hal ini restribusi karcisnya. Karena semua anggaran daerah jika kita hanya menggunakan untuk kebutuhan service saja, itu tidak bisa dan akan membuat pendapatan setiap tahun tidak bisa naik,”katanya.

Sehingga menurutnya, apabila diinginkan agar pendapatannya naik maka harus diciptakan sarana untuk peningkatan PAD-nya seperti tempat-tempat parkiran di Pasar Sanggeng dan Wosi harus ditertipkan kembali.

“Kita baru tahun, kalau Tim Saber Pungli ada menangkap beberapa orang penagih restribusi. Kemudian manokwari ini sector jasanya cukup besar, jadi kita sebenarnya sudah bisa dihidupi oleh sektor jasa saja,”tuturnya.

Dikemukakannya bahwa sumbangan ke PAD terbesar dari beberapa diantaranya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Perhotelan, dan Restribusi Pasar. “kita kenapa menarget naik Rp. 60 miliar karena diperkiran kenaikan itu 1-5 persen. Tidak bisa sampai 10 persen itu berarti harus ada tambahan investasi,”sebut Warijo.

Sementara, lanjutnya, Investasi di Kabupaten Manokwari hanya satu yaitu Pabrik Semen, itu pemerintah baru pungut dari pengahasilan penjualan kapur dan izin gangguan yang baru dipungut.

“Izin-izin lain belum, jadi kita berharap kalau semua atau sudah normal. Itu pasti semua izin kita kenakan, maka penghasilan kita paling tinggi sekitar Rp. 4 miliar sampai dengan Rp. 6 miliar dibandingkan dengan tahun 2017 itu hanya Rp. 2 miliar,”jelasnya.

Disamping itu, Warijo mengakui bahwa dari hasil pendapatan daerah kebanyak terjadi kebocoran di sektor restribusi pasar, dan warung makan. [fg]

Comments are closed.