PT KCI Gelar Acara Bertajuk Komuter Pintar Peduli Sekitar

0

JAKARTA, braind.id PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) kembali menggelar acara bertajuk Komuter Pintar Peduli Sekitar yang kali ini di selenggarakan di Stasiun Sudirman, jakarta. Selasa (12/03/2019).

Kegiatan ini, merupakan tahun kedua penyelenggara Komuter Pintar Peduli Sekitar yang kali ini menggandeng Komnas Perempuan, dan Komunitas Perempuan dengan para pengguna KRL, sebagai sasaran utamanya.

VP Corporate Corporate Communication PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), Eva Chairunisa mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu upaya PT KCI dalam memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret.

“kegiatan ini bertujuan untuk memberi esukasi kepada seluruh pengguna jasa KRL mengenai bentuk-bentuk pelecehan seksual yang biasa terjadi, melakukan upaya pencegahan, hingga bagaimana membantu diri sendiri maupun orang lain yang menjadi korban pelecehan,” kata Eva.

Lanjutnya, bentuk-bentuk pelecehan seksual lain melalui pelecehan verbal dan non verbal. Bentuk verbal misalnya siulan nakal, komentar atau percakapan yang berkonotasi seksual, gurauan bersifat pornoaksi yang ditujukan kepada korban dengan tujuan merendahkan dan korban merasa tidak terima.

“Catatan akhir Tahun yang dikeluarkan Komnas Perempuan menyebutkan sepanjang tahun 2018 kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 406.178 kasus kekerasan atau meningkat 14 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari data tersebut, 394 kasus diantaranya merupakan kasus pelecehan seksual yang terjadi di ranah publik,” ujarnya.

PT KCI, sepanjang tahun 2018 pelecehan seksual di dalam KRL maupun stasiun terjadi sebanyak 34 kasus, 20 kasus diantaranya korban berani melanjutkan laporan je aparat penegak hujum.

Hal ini, meningkat dibanding tahun 2017, dimana pada tahun tersebut dari 25 kasus pelecehan, tidak ada satu pun dilanjutkan dengan laporan ke aparat penegak hukum dengan laporan ke aparat penegak hukum.

Sementara itu, aktivis perempuan, Rika Rosvianti Neqy menjelaskan kekerasan seksual di tempat dan transportasi umum menghambat terwujudnya kesetaraan gender. Jangan beraktualisasi diri secara maksimal, perempuan dewasa maupun anak perempuan bahkan terancam mengalami kekerasan seksual dalam perjalanannya memenuhi hak dasar sebagai warga negara saat mengakses layanan pendidikan, kesehatan dan pekerjaan.

“Pelecehan seksual dalam tranportasi publik sudah banyak terjadi dari generasi kegenerasi. Setiap perempuan rentan mebgalami pelecehan tersebut, persoalan urama adalah masalah ruang, budaya, dan penegakan masalah,” kata Rika.(dade)