Lem Aibon Hancur Generasi, Pemprov Papua Barat Jangan Tutup Mata

0
Pakomis (Jaket Hitam) bersama Generasi Asli West Papua di Sanggeng//RED

 

MANOKWARI, braind.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Pemkab diminta jangan tutup mata dengan masalah Lem Aibon di wilayah Papua Barat.
Pasalnya, para pengguna atau pengisap lem aibon ini rata-rata adalah anak-anak asli Papua yang nanti akan menjadi generasi penerus di Papua Barat dan secara keseluruhan di Tanah Papua.
Kali ini, Pakomis Wambrauw salah satu tokoh masyarakat di Kelurahan Sanggeng, Manokwari berharap kepada pemerintah daerah agar lebih serius melihat persoalan lem aibon yang semakin marak di wilayah Papua Barat khususnya di Manokwari.
“Saya selaku orang tua bagi anak-anak tak terurus ini atau yang biasa dibilang anak lem fox ini meminta perhatian dari pemerintah provinsi maupun kabupaten sebagai orang tua tolong membantu atau melihat persoalan ini,”harap Pakomis Wambrauw yang ditemui braind.id, Minggu (6/01/2019).
Menurutnya, anak-anak tak terurus alias lem fox ini butuh perhatian yang sangat serius dari semua pihak terlebih khusus pemerintah sebagai orang tua, karena sangat memprihatinkan melihat permasalahan tersebut.
“Saya sebagai masyarakat biasa yang telah berupaya untuk merangkul anak-anak ini dan melakukan pembinaan melalui sepakbola, rohani, dan kreatifitas potitif lainnya untuk marangkul mereka. Tapi saya sendiri sudah tidak mampu, karena saya sendiri tidak punya apa-apa,”ujar Wambrauw dengan nada sedih.
Dikemukakannya bahwa pembinaan yang selama ini dilakukan hanya sebatas bagaimana merangkul dan mengumpulkan anak-anak tersebut di kediamannya yang terletak di Kompleks Sanggeng untuk melakukan hal-hal positif demi hindarkan mereka (anak-anak-red) dari segala macam bentuk kejahatan yang merusak masa depan anak-anak ini.
“Saya mohon bantuan dari pemerintah dalam bentuk pembiayaan atau bentuk apapu, sehingga bisa dapat dipergunakan untuk membina generasi ini terhindar dari lem fox maupun kejahatan lainnya. Memang banyak yang putus sekolah,”ungkapnya.
Dikatakannya, untuk jumlah anak-anak tak terurus alias lem fox yang sementara tinggal di kediamannya untuk dibina sebanyak 83 orang dan dari 83 orang tersebut sebagian besar putus sekolah, karena faktor linkungan dan perhatian dari keluarga.
Oleh sebab itu, sekali lagi dirinya berharap kepada pemerintah agar tidak menutup mata dengan permasalahan yang dihadapi warga Sanggeng terlebih khusus generasi asli Papua saat ini.
“Saya harap di tahun 2019 ini, pemerintah lebih melakukan program-program yang dapat menyentuh langsung ke masyarakat akar rumput terlebih khusus kepada anak-anak lem aibon,”tutupnya. [RED/ONE]