Korupsi Perbankan, Jaksa Bidik Tersangka Kasus Kredit BTN

0

JAKARTA, braind.id – Dugaan praktik korupsi perbankan di PT Bank Tabungan Negara (BTN) di bongkar jajaran penyidik pidana khusus Gedung Bundar Kejaksaan Agung. terkait pemberian Kredit Yasa Griya (KYG) oleh Bank BTN cabang Gresik kepada debitur PT Graha Permata Wahana dan Novasi kepada PT Nugraha Alam Prima serta PT Lintang Jaya Property.

Kasus dugaan korupsi tersebut sudah dalam tahap penyidikan, namun belum pada penetapan tersangka. Penyidik masih terus melakukan pemeriksaan para saksi-saksi baik dari unsur pemerintah mauapun dari unsur swasta yang diduga mengetahui proses dari pemberian kredit yang diduga merugikan negara puluhan miliaran rupiah.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapus Penkum), Mukri mengakan penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung telah meningkatkan status penyelidikan perkara ini ketahap penyidikan sesuai dengan Surat perintah penyidiakan (Sprindik) yang ditandatangani Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Dirdik pada Jampidsus), Warih Sadono.

“saat ini sudah penyidikan, penyidik masih terus mendalami pihak-pihak yang diduga mengetahui pemberian kredit ini,” katanya  di Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (13/11/2018).

Lanjut Mukri, Untuk mencari siapa pihak yang paling bertanggungjawab dalam pemberian kredit yang menimbulkan dugaan kerugian negara ini untuk dijadikan tersangka, tim penyidik telah memeriksa puluhan orang saksi baik dari pihak swasta maupun pihak Bank BTN.

Saat ini, kata Mukri, yang juga mantan Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi DIY Yogyakarta, ada beberapa saksi-saksi yang dijadwalkan pemanggilan untuk dimintai keterangannya seperti Direktur Utama PT Nugraha Alam Prima, Eddy George Tauran, Komisaris PT Nugraha Alam Prima, Sigit Wahyudi, Dr Rosyan Rahman, Christan Yudianto Tauran dan Siswadji SH. Saksi Siswadji tidak tertera jabatan dan identitas lengkapnya.

“semuanya diperiksa sebagai saksi, penyidik menilai perlu mendengar keterangan para saksi dalam pendalaman perkara ini,” tegasnya.

Disinggung soal apakah dalam waktu dekat akan ada penetapan tersangka, Mukri mengatakan soal hal tersebut hanya tim penyidik yang mengetahuinya. Yang jelas proses penyidikan masih terus berjalan hingga saat ini. “kalau soal penetapan tersangka hanya penyidik yang tahu, nanti akan diinformasikan jika sudah ada tersangkanya,” tutupnya.

Beberapa pegawai dari BTN yang sudah diperiksa sebagai saksi oleh penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung yakni Kepala Departemen Supporting Asset Manajement AMD BTN Pusat Alpin Chandra, Area Head II Surabaya tahun 2016 Atjuk Winarto, AMD Head Area II Setyanto Basuki, serta Kepala AMD Kantor Pusat Setya Wijayantara.

BOBOL BTN CIKARANG

Awal tahun 2018, kasus dugaan korupsi di Bank BTN juga pernah disidik oleh jajaran Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten. Kasus korupsi tidak lain soal pemberian kredit dari Bank BTN Cikarang kepada debitur yang merupakan beberapa perusahaan, namun kredit tersebut macet dan menimbulkan kerugian negara Rp 6,5 miliar.

Dalam kasus ini penyidik menetapkan dua orang tersangka BW dan IO yang merupakan saat itu pegawai Bank BTN Cikarang dan NA. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kedua tersangka merupakan pegawai yang bertugas di bidang kredit pada nasabah di Bank BTN Cikarang dan tindak pidana korupsi yang dilakukan dua tersangka, berlangsung dua tahun, sejak 2012 hingga 2013.

Diitemukan adanya persekongkolan antara oknum pegawai BTN dengan pihak luar untuk mencairkan bantuan kredit bagi nasabah tersebut. Persengkongkolan antara oknum bank dan pihak luar itu dilakukan untuk memangkas segala bentuk tahapan yang ditetapkan bank sebelum pencairan kredit kepada nasabah. Kedua tersangka usai melakukan pemeriksaan langsung dilakukan penahanan oleh penyidik di Lapas Bulak Kapal, Bekasi Timur.

Tak hanya memeriksa dua tersangka, penyidik juga melakukan pemeriksaan para pegawai Bank BTN hingga para nasabah yang mengajukan pinjaman. Permohonan kredit yang diajukan berkisar antara Rp500 juta hingga Rp3,7 miliar. Saat ini kasus tersebut tengah dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung. (ed)