Indoensia Wilayah Ring of Fire, Minimalisasi Dampak Bencana

11

JAKARTA braind.id – Kadiv Humas Polri, Setyo Wasisto mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat rawan terhadap berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir dan lainya. Hal ini karena secara geografis Indonesia di kelilingi “cincin api (ring of fire)” sehingga potensi terjadi bencana bisa terjadi sewaktu-waktu.

Saat acara FGD dengan tema “Sinergi Sistem Mitigasi Dalam Upaya Meminimalisasi Dampak Bencana Alam”, di Hotel AMAROSSO Cosmo, Jl. Pangeran Antasari No 9, Cilandak, Jakarta Selatan.

“Bahkan belum lama ini, Indonesia diguncang bencana hebat berupa gempa bumi dan tsunami di Palu-Donggala, Sulawesi Utara dan gempa bumi yang juga terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Belum selesai penanganan bencana di Lombok yang berkekuatan sekitar 7 skala richter (SR), Indonesia kembali diguncang gempa kekuatan 7,4 SR kali ini di Palu, jadi lebih besar dari Lombok,” kata  Setyo, Rabu (17/10/2018),

Dalam penanganan bencana di Lombok ataupun di Palu sempat terjadi chaos kecil karena tidak meratanya bantuan paska bencana yang terjadi terutama di Palu.

Hal ini, karena banyaknya infrastruktur yang rusak, korban berjatuhan dan juga pasokan BBM dan listrik juga mati.

“Saat seperti ini, masyarakat yang selamat dari bencana sangat berharap kebutuhan dasarnya terpenuhi. Bencana terjadi sinergi sistem yang belum maksimal akibatkan penanganan korban tidak cepat, kurangnya alat berat atau tidak tersedia alat berat yang mengharuskan mendatangkan dari berbagai daerah sehingga membuat lambat evakuasi,” ujarnya

Lanjut Setyo menjelaskan penjarahan terjadi karena tidak meratanya penyaluran bantuan ini, terjadi karena koordinasi tidak lancar akibat lumpuhnya jalur telekomunikasi. Terkait dengan gempa bumi, berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Indonesia memiliki 295 sumber gempa patahan aktif.

“Akibatnya potensi terjadi gempa sangat besar, namun sayangnya tidak ada satu teknologi pun yang mampu memprediksi kapan terjadinya gempa bumi, sehingga saat gempa terjadi banyak korban jiwa berjatuhan dan berbagai macam bangunan serta infrastruktur porak poranda seperti yang baru saja terjadi di Palu dan Lombok belum lama ini,” ungkap Setyo.

Sementara, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono menjelaskan, kita hidup harmoni dengan alam, kita harus siap menghadapi ancaman bencana. Sebab kita punya 295 sesar aktif atau patahan, semua harus kita siapkan menghadapi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Ditengah ancaman gempa bumi yang beruntun, masih ada sejumlah permasalahan serius yang harus dituntaskan kedepan. Salah satunya adalah banyaknya bangunan rumah tinggal yang tidak menerapkan konsep bangunan tahan gempa,” kata Daryono.

“Akibat saat gempa terjadi, rumah roboh dan menimpa penghuninya sehingga menimbulkan korban jiwa. Parahnya lagi, bencana susulan seperti stunami, kebakaran, tanah longsor sehingga menimbulkan lebih banyak korban jiwa,” pungkasnya. (dade)

Comments are closed.