Caleg Asal Alor, Berjanji Tidak Akan Menerima Gajinya Selama 5 Tahun Jika Terpilih

0

KUPANG, braind.id – Seorang Sarjana teologia asal Desa Pante Deere, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi calon legislatif (Caleg) yang sah.

Dia adalah Kaleb Laamaly, Caleg untuk DPRD Kabupaten Alor, asal Partai Demokrat, nomor urut 7. Ia pun berjanji tidak akan menerima gaji, jika terpilih pada Pemilu 2019, dan akan menyerahkan semua gajinya untuk masyarakat,

Komitmennya itu, ia tuangkan dalam sebuah pernyataan tulisan tangannya, juga dibubuhi materai, lalu ditandatangani Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Alor Denny Lalitan, lengkap dengan cap partainya.

“Akan saya berikan semua gaji dan tunjangan kepada warga, khususnya pengurus di 60 anak ranting, jika terpilih nanti,” janjinya. beberapa waktu lalu.

Gaji di DPRD selama lima tahun, kata dia, semuanya akan diberikan kepada masyarakat dari daerah pemilihannya, sedangkan tunjangannya akan diberikan jika ada masyarakat yang datang meminta bantuan.

Usianya baru 33 tahun, ia tidak berorientasi pada gaji, maju menjadi anggota legislatif, tapi untuk kemajuan dan kepentingan rakyat, dengan ide-ide dan gagasan baru yang dimilikinya.

Latar belakang Kaleb, sekolah calon pendeta akan menjadi beban tersendiri saat berhadapan dengan masyarakat di Kabupaten Alor.

Sebab kedua orangtua saya, kata dia, berprofesi sebagai pendeta dan saya adalah anak tunggal, kemudian membuat tinjauan politik di dalam Al Kitab dan memang kesimpulannya tidak salah kalau saya ikut berpolitik.

Kaleb terinspirasi oleh tokoh Nehemia dalam Al Kitab. Nehemia adalah seorang bupati dan pada masa kepemimpinannya dua periode 12 tahun, tidak menerima gaji, untuk pembangunan tembok Yerusalem.

Kata dia, Ini saya kaji dari sisi teologis, karena saya memang sekolah khusus pendeta. Nehemia terus diberkati rezeki yang berkelimpahan. Logikanya kalau dia kasih tentu akan berkurang, tapi ini malah bertambah rezekinya.

Lanjut Kaleb, Gaji yang diterima warga itu, bukan digunakan untuk foya-foya, melainkan untik keperluan usaha masyarakat.

Ia menambahkan, Memang kita hidup ini butuh uang, tapi tidak semuanya harus dengan uang. Kan masih ada jagung dan kelapa yang bisa kita makan.

“Niat saya yang besar untuk mengubah metode demokrasi di Indonesia, agar masyarakat tidak lagi berasumsi negatif terhadap DPRD,” pungkas Kaleb Laamaly, (red)