Bentuk Karakter Perempuan Papua, Paradisea Gelar Peningkatan Lokal Champion

0
297
Johana Kafiar : Perempuan Papua harus terlibat dalam kerja-kerja Advokasi dalam menyelamatkan Hutan dan Masyarakat Hukum Adat
MANOKWARI, braind.id – Upaya membentuk Karakter Perempuan Papua untuk terlibat dalam kerja-kerja Investigasi dan advokasi Hak-hak perlindungan Hutan dan Masyarakat Hukum adat, Yayasan paradisea Provinsi Papua Barat Gelar Peningkatan Lokal Champion di Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel), Papua Barat.

Program Officer Paradisea, Johana Kafiar mengungkap, selama ini perempuan Papua selalu ditindas oleh Budaya Patriakhi sehingga jarang terlibat aktif mengambil keputusan dalam masyarakat, ataupun kerja-kerja sosial kemasyarakatan karena bagi masyarakat Papua perempuan itu kerjanya di dapur, jaga anak atau berkebun.

Johana Kafiar alias Binjos//RED

“Kebiasan adat di Papua Perempuan urusannya di dapur, jaga anak dan usannya di kebun. Seharuanya Perempuan juga punya hak yang sama. Dan harus terlibat untuk mengambil keputusan atas tanah, hutan dan masalah-masalah sosial di Masyarakat,”ucap Johana saat di wawancarai oleh Wartawan, Selasa (14/8/2018).

Dikatakan oleh Johana bahwa melalui kegiatan Peningkatan Local Champion yang diselenggarakan oleh Yayasan Paradisea di Kabupaten Manokwari Selatan pada Senin 12 Agustus 2018 di Kampung Ransiki telah terlihat semangat dari kaum perempuan Papua untuk mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, ikut serta mengambil keputusan dalam Masyarakat dan mau terlibat dalam kerja-kerja advokasi masalah-masalah sosial di Masyarakat.

Kegiatan Local Champion yang digagas sebagai upaya peningkatan Kualitas dan Karekter perempuan Papua dalam mengadvokasi masalah Sosial terutama perlindungan Hutan dan Masyarakat Hukum adat. Dari kegiatan tersebut, Sebanyak 27 Perempuan terwakili dari 4 suku besar di Mansel yakni Souhg, Souhg Bohon, Hatam dan Wamesa. Kegiatan tersebut digelar di Balai Kampung Ransiki Kabupaten Manokwari Selatan.

Dari hasil yang kita capai, ternyata perempuan papua juga ingin terlibat secara langsung dalam mengambil keputusan di Masyarakat, ingin terlibat dalam program-program pemerintah yang turun ke kampung. Selain itu, perempuan juga ingin dilibatkan proses advokasi dan perlindungan terhadap Hutan dan Masyarakat Hukum adat.
Target kita, Bagaimana Perempuan Papua terlibat dalam upaya melindungi Hutan Papua dan Masyarakat Hukum Adat. Ujar salah satu aktivis Gender ini.

Dikatakan olehnya bahwa kegiatan tersebut merupakan kegiatan tindak lanjut dari Tahun lalu yang di gelar di Jakarta dengan melibatkan dua orang utusan perempuan dari Papua. Dan kini digelar di Kampung Ransiki.

“Kami Rencanakan pada Bulan September kami akan menggelar tindak lanjut kegiatan seperti ini di Ibu Kota Provinsi Papua Barat dengan melibatakan utusan perempuan papau dari 12 Kabupaten dan 1 kota di Provinsi Papua Barat. Dengan target pembentukan Perda Perlindungan Masyarakat Hukum Adat,”tandasnya. [RED/ONE]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here