APLSI Protes Larangan Angkutan Batu Bara Lewati Jalan Umum

0
44

SUMSEL, Braind.id – Mulai berlaku larangan angkutan truk batubara melintas di jalan umum di Sumatera Selatan pada Kamis (08/11/2018), Pemberlakukan ini setelah dicabutnya Pergub Nomor 23 tahun 2012 tentang tata cara angkutan batubara di jalan umum.

Kebijakan ini mendapatkan protes dari Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI).Beberapa produsen tidak terima, dan mereka menganggap kebijakan tersebut membuat pengusaha resah.

Juru Bicara APLSI Rizal Calvary mengatakan, “dampak dari kebijakan tersebut, seluruh angkutan batubara di Sumsel terancam lumpuh.
Sehingga tak menutup kemungkinan hasil tambang juga tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal”. Kamis (08/11)

“Dengan kebijakan Pemprov ini semua pelaku usaha khususnya pertambangan resah. Sebab semua angkutan batubara terancam tidak bisa beroperasi dan siap-siap pasokan ke pembangkit listrik akan terhenti,” ujarnya.

Lanjutnya, selama ini seluruh truk mengangkut batubara baik melalui kereta api dan jalan khusus harus lewat jalan umum. Tanpa akses tersebut, truk tidak akan bisa mengirim hasil tambang ke luar lumbung galian.

“Truknya kan semua melalui jalan umum untuk keluar dari titik awal tambang, jadi kalau aturan diberlakukan bagaimana ini bisa kami kirim ke sub-station kereta api dan jalan khusus. Tentu akan terancam lumpuh dan bisa mogok semua,” katanya.

Untuk itu, kata Rizal Calvary, APLSI meminta agar Pemprov kembali mencabut kebijakan itu sampai adanya win-win solution baik bagi dunia usaha dan pemerintah. Sebab kebijakan ini akan berdampak negatif bagi industri listrik dan perekonomian di tingkat lokal dan nasional. Dampak ekonomi dan dampak sosialnya pasti besar sekali bagi Sumsel.

Ia menambahkan, Sumsel akan merugi sekitar US$ 1,2 miliar atau Rp 18,3 triliun per tahun kalau terjadi penutupan jalan untuk batubara, “Kerugian ini tentu akibat berkurangnya 23 juta ton penjualan batu bara Sumsel selama setahun.” katanya.

Menurutnya, di tahun 2018, total produksi batubara Sumsel diperkirakan sekitar 48,5 juta ton atau 9 persen produksi nasional.
Itu artinya nasional membutuhkan batu bara dari Sumsel dan pasokan tentunya harus lancar juga.

“Apalagi bagi pasokan listrik nasional hampir seluruhnya dari Sumsel, tentu ini akan berdampak juga ditingkat nasional khususnya pasokan listrik,” katanya. (pap/yan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here