AKTOR KORUPSI DI FAKFAK TERKESAN DIBIARKAN

0

Fakfak. Braind.id – kasus korupsi tahun 2011 yang melibatkan Bupati Fakfak (Mohammad Uswanas) bersama kroni-kroninya dengan memboncengi kepentingan pemodal politik (Bahlil Lahadalia) sampai saat ini belum terlihat tuntas diselesaikan. Parahnya lagi, kasus yang melibatkan Bupati terpilih periode kedua ini terkesan dibiarkan terbengkalai tanpa adanya proses lanjutan pada hal, dalam penelusuran Brain.Id bersama salah seorang anggota Komunitas Masyarakat Adat Papua Anti Korupsi (KAMPAK) ditemukan bahwa masalah ini pernah dilaporkan ke KPK pada tahun 2012 dengan nomor registrasi : No. 2012-04-000409; No. 2012-04-000294; No. 2012-04-000295; No. 2012-04-000296; dan 2012-04-000297. Namun al-hasil belum mendapat respon dari KPK.

Bukan merupakan rahasia umum lagi bahwa modus yang dilakukan Bupati bersama pemodal politik adalah dengan merekayasa mega proyek yang bernilai ratusan milyard rupiah tanpa melalui mekanisme prosedural melainkan proyek ini diberikan secara Cuma-Cuma alias penunjukan langsung oleh Bupati tentunya karena alasan dasariah bahwa Pemodal Politik (Bahlil) telah berkontribusi lebih dalam rangka menyukseskan Bupati. Beberapa mega proyek yang dimaksudkan antara lain : proyek pembangunan bandara udara internasional Siboru Fakfak dengan nilai anggaran sebesar Rp. 15.446.188.800,00. Proyek tersebut dibagi dalam dua bidang anggaran, pertama anggaran sebesar Rp. 14.988.232.000,00 dialokasikan untuk pembangunan bandara udara tahap I, dan anggaran sebesar Rp. 457.956.800,00 dipakai untuk pengawasan pembangunan bandara udara.

Kedua, proyek pembangunan reklamasi pantai Fakfak dengan nilai anggaran sebesar Rp. 37.943.168.000,00, proyek tersebut dibagi dalam dua bidang, Rp. 17.804.874.000 untuk pembangunan reklamasi pantai tahap I dengan kontrak proyek reklamasi A-C, sementara reklamasi kontrak proyek B senilai Rp. 19.344.126.000,00 untuk pengawasan pembangunan reklamasi pantai dengan anggaran sebesar Rp. 794.168.000,00.

Ketiga, proyek pembangunan kantor Bupati Fakfak dengan nilai anggaran sebesar Rp. 28.633.248.000,00 juga dibagi dalam dua bidang, Rp. 28.000.000.000,00 untuk pembangunan kantor Bupati tahap I, dan dana sebesar Rp. 633.248.000 untuk dana pengawasan pembangunan kantor Bupati.

Keempat, proyek pembangunan gedung rumah sakit dengan nilai anggaran Rp. 19.159.945.000,00. Juga dibagi dalam dua bidang, tahap I sebesar Rp. 18.700.000.000 dialokasikan untuk pembangunan, dan dana pengawasan pembangunan rumah sakit sebesar Rp. 459.945.000,-

Kelima, proyek pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fakfak dengan nilai anggaran sebesar Rp. 23.000.000.000,00.

Keenam, proyek pengadaan sapi di Bomberay dengan nilai anggaran sebesar Rp. 5.040.000.000,00

Ketujuh, dana alokasi pemberdayaan masyarakat kampung dan RT se-Kabupaten Fakfak dengan nilai anggaran sebesar Rp. 50.009.434.000,00. Dana sebesar Rp. 41.009.434.000,00 untuk tahun 2010, dan dana senilai Rp. 9.000.000.000,00 untuk tahun 2011. Total keseluruhan anggaran yang dikeluarkan dari tujuh mega proyek diatas, ditaksir sebesar Rp. 179.231.983.800.00.

Sem Rohrohmana yang sering disapa “sero” selaku tokoh muda Fakfak ketika dikonfirmasikan mengenai hal ini sangat menyesalkan kinerja dari para pelaku hukum yang terkesan lambat dalam menangani kasus ini pada hal bukti-buktinya sangat jelas sekali. “Saya selaku tokoh muda Fakfak sangat menyesal terhadap para pelaku Hukum di negeri ini yang sangat lambat menyelesaikan kasus ini, padahal bukti-buktinya sudah jelas sekali”. Ungkap Sero. [Aban]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here