Air Mata Topeng Monyet

2

Peringatan Hari Primata Nasional

Bandung – braind.id –  30 Januari 2018, Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) merupakan salah satu dari jenis primata yang ada di Indonesia namun statusnya belum dilindungi karena dianggap ‘umum’. Padahal banyak sub-jenis macaca yang sangat langka dan seharusnya kita lindungi.

Namun jika ini terus dibiarkan di Indonesia, primata jenis monyet ekor panjang ini
akan terancam akibat hilangnya habitat oleh perburuan, dan dijadikan sebagai topeng
monyet/ doger monyet. Topeng Monyet/ Doger Monyet merupakan salah satu kegiatan yang melanggar kesejahteraan satwa karena kasus penanganan serta pelatihan yang tidak menerapkan poin-poin kesejahteraan satwa dan ini merupakan eksploitasi terhadap satwa. Bayi monyet ditangkap dari hutan dan dibawa untuk dijual. Dalam proses ini, para induk monyet terbunuh dan anggota keluarga lainnya sering juga mati saat mereka saling melindungi satu sama lain.

Monyet ekor panjang merupakan makhluk sosial dimana mereka hidup secara berkelompok, namun ketika mereka diambil dari habitatnya mereka terpaksa hidup secara individual sehingga menyebabkan penyimpangan perilaku alami (abnormality behaviour). Dalam hal penempatannya pun mereka tidaklah ditempatkan ditempat bersih dan terawat serta tidak mendapatkan makanan dan minuman yang layak. Dari hasil monyet topeng monyet yang telah di rescue oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN), seluruh monyet tersebut menderita infeksi cacingan dan radang gusi kronis dikarenakan pencabutan gigi secara paksa. Primata khususnya jenis monyet ekor panjang memiliki resiko menularkan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari monyet ke manusia. Penyakit yang dapat ditularkan dari monyet Topeng Monyet ke manusia antara lain adalah penyakit rabies dan tuberkulosis (TBC).

Hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan tim medis JAAN terhadap seluruh
monyet eks topeng monyet di DKI Jakarta, menunjukkan bahwa sebanyak 11,31% dari
seluruh monyet topeng monyet terbukti positif menderita penyakit Tuberkulosis. Hal ini
sangat mengejutkan dan berbahaya terhadap keamanan dan kesehatan masyarakat secara nasional, jika aktivitas topeng monyet ini tetap dilakukan di Indonesia!
Selain resiko zoonosis, aktivitas topeng monyet ini juga melanggar 5 (lima) prinsip
kesejahteraan hewan. Hasil investigasi tim kami, monyet dilatih untuk menjadi topeng
monyet kurang lebih selama 3 – 6 bulan.

Tahapan pelatihan monyet Topeng monyet sangat kejam. Tahapan tersebut yaitu:
1. Tahap pertama adalah tahap monyet harus bisa berdiri tegak. Monyet merupakan
hewan yang tidak dapat berdiri tegak. Monyet dipaksa dilatih untuk dapat berdiri
tegak. Durasi pelatihannya kurang lebih selama 3(tiga) minggu. Leher monyet
biasanya di ikat dengan rantai dengan posisi berdiri tegak. Setiap harinya monyet
digantung dalam posisi seperti ini selama 6-8 jam.

2. Tahap kedua adalah tahap pengenalan alat. Dalam tahap ini biasanya memakan
waktu 2 minggu hingga 1 bulan lamanya. Dalam tahap ini, monyet sering dipukul
dan diikat dengan rantai sebagai isyarat atau tanda untuk mengikuti instruksi
pawang topeg monyet.

3.Tahap ke tiga adalah tahap salto/lompat. Tujuannya agar monyet dapat melompat
atau melompati lingkaran. Pada tahap ini leher monyet akan diikat dengan rantai,
kemudian kedua tangannya di ikat, lalu digantung di tembok. Pada tahap ini
memakan waktu sekitar 10 hari-3 bulan.

3. Tahap selanjutnya adalah saat pertunjukan topeng monyet di jalanan. Para pelaku
topeng monyet biasa berada di area lampu merah mulai dari jam 9 pagi sampai jam
9 malam, namun juga di waktu lainnya tergantung tempat dan wilayah, dan tidak
mengenal cuaca. Mereka akan terus bekerja dengan membawa monyet mereka di
cuaca panas, hujan, bahkan di tempat yg penuh asap knalpot dan bising.

DKI Jakarta sudah melarang keberadaan Topeng Monyet sejak tahun 2014. Fenomena kekejaman Topeng Monyet/doger monyet akhirnya juga mendapatkan respon dari Pemerintah Jawa Barat pada 30 Maret 2015 dengan dikeluarkannya surat edaran Gubernur Jawa Barat tentang Kewaspadaan terhadap penyakit rabies dan zoonosis lainnya di Jawa Barat kepada Bupati dan Walikota se-Jawa Barat, nomor 524.31/1504/Rek, sebagai upaya melindungi masyarakat dari bahaya penyakit yang menular dari hewan ke manusia (zoonosis).

Hal yang melandasi aksi ini adalah kami mendesak pemerintah melaksanakan penertiban terhadap aktifitas topeng monyet yang menggunakan satwa liar jenis Primata (Monyet ekor Panjang) Macaca Fascicularis di Kabupaten/ Kota di Jawa Barat yang dinilai mengeksploitasi satwa liar dan mengabaikan kesejahteraan satwa maupun hak-hak hidup satwa liar serta mengancam kesehatan masyarakat nasional akibat resiko zoonosis dari penyakit Tuberkulosis. Kami mengharapkan wilayah dan kota-kota lainnya di Indonesia mewujudkan terselenggaranya INDONESIA BEBAS TOPENG MONYET. Karena negara maju dapat dilihat dari penerapan kesejahteraan terhadap satwanya.
Semoga masyarakat pada umumnya bisa menilai dengan bijak bahwa kami bukanlah
perkumpulan yang sekedar mencari kesalahan belaka. Semua yang kami tuntut dan
suarakan adalah berdasarkan fakta‐fakta yang sudah kami temukan di lapangan, demi masa depan konservasi dan edukasi sehat berkenaan dengan kehidupan satwa liar di Indonesia. (Vio)

Jakarta Animal Aid Network

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here